vuuuu

buterfly

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Konsep Dasar Pengantar Pendidikan. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas yang yang diberikan oleh Dosen dalam mata kuliah Konsep Dasar Pengantar Pendidikan.
Selama penyusunan makalah ini, penulis tidak lepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih.
Untuk penyempurnaan, penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi seperti saat ini, sering kita jumpai banyak kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan teori yang ada atau dengan kata lain telah terjadi penyimpangan. Edward Lorenz, seorang peneliti meteorologi yang meneliti perkiraan cuaca dengan bantuan komputer. Edward Lorenz merasa terkejut ketika gambar grafik yang diperoleh dari sebuah data yang hanya berbeda angka karena angka yang kedua adalah hasil dari pembulatan angka yang pertama. Dari simulasi tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa kepakan sayap kupu-kupu sekalipun dapat mengakibatkan ataupun mencegah terjadinya tornado. Itulah sebabnya kemudian hasil penemuan tersebut diberi nama Butterfly Effect.
Dalam makalah ini selanjutnya akan di bahas mengenai teori Butterfly Effect, contoh aplikasi dari teoi Butterfly Effect dan bagaimana cara menghadapi Butterfly Effect.

PEMBAHASAN

A. BUTTERFLY EFFECT
Butterfly Effect atau dalam bahasa In$donesiA berarti efek kupu-kupu dikisahkan pada tahun 1961, Edward Norton Lorenz melakukan penelitian untuk memprediksi kejadian cuaca dengan bantuan simulasi komputer. Mr. Lorenz membulatkan angka yang diperolehnya itu ke dalam bilangan desimal 0,506. Namun alangkah sangat terkejutnya Mr. Lorenz. Ketika ia memasukkan bilangan desimal yang didapatkan dengan lebih lengkap yaitu 0, 506127 ternyata hasil skenario cuaca yang didapatkan benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Dari simulasi tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa kepakan sayap kupu-kupu sekalipun dapat mengakibatkan ataupun mencegah terjadinya tornado. Itulah sebabnya kemudian hasil penemuan tersebut diberi nama Butterfly Effect atau Efek Kupu-kupu. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantunganya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Dengan kata lain kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari. Berpegang dari fenomena tersebut yang dilandasi oleh berbagai kejadian yang bersifat acak, maka efek kupu-kupu ini dalam budaya masyarakat kemudian menjadi sebuah metafora untuk keberadaan peristiwa yang terlihat tidak penting namun dapa merubah sejarah, bahkan takdir seseorang.

B. Contoh Aplikasi Butterfly Effect
Seperti kita tahu, begitu banyak peristiwa yang kita lalui dalam hidup yang sepertinya kacau dan berantakan namun ternyata saling berhubungan satu sama lain. Seperti misalnya perjuangan seorang Kartini, hanya dengan menulis surat, suatu tindakan kecil interaksi personal, namun mampu membuat perubahan besar bagi kaum perempuan-perempuan Indonesia.
Contoh lain, jika Presiden SBY memilih kebijakan menaikan harga BBM, maka itu setara dengan kepakan jutaan kupu-kupu. Mengapa? Karena dampaknya amatlah luas. Dengan kebijakan menaikkan harga BBM 30% maka akan ada 15.68 juta orang miskin baru. Ini berarti akan ada lima puluh juta lebih orang miskin di Indonesi mengingat sebelum kenaikan harga BBM jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 36.8 juta jiwa. Ini berarti ada sekitar 25% penduduk Indonesia miskin. Dampak kedepannya, orang miskin ini tidak akan mampu sekolah, sulit mencari kerja akhirnya angka kemiskinan meningkat, kriminalitas meningkat, daya beli turun dan banyak produk-produk yang dijual tidak laku. Dampak lanjutannya banyak industri bangkrut, angka pengangguran meningkat dan jumlah orang miskin atau stress juga makin bertambah. Krisis dunia bisa berpeluang terjadi karena produk-produk dari negara maju tidak laku di negara berkembang.

Dalam buku Jamil Azzaini disebutkan bahwa satu peristiwa yang terjadi bisa membuka atau menutup peluang terjadinya peristiwa lain yang lebih besar. Kemungkinan yang kita alami juga akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kemungkinan yang dialami orang lain. Bahwa kita seolah-olah berada dalam suatu ruangan tanpa batas dengan kombinasi kemungkinan yang tidak terhingga.

Gagalnyaa Teori Big Bang
Apa yang bakal terjadi jika teori Big Bang itu ternyata salah” Bagaimana jika ternyata semesta tidak pernah memiliki awal dan akhir” Dua ahli fisika, yakni Paul Steinhardt dari Princeton University dan Neil Turok dari Cambridge University memunculkan pertanyaan ini lewat konsep baru yang mereka tawarkan. Teori Big Bang, selama beberapa dekade, dipercaya memberikan penjelasan paling masuk akal tentang kelahiran alam semesta. Teori ini menerangkan bahwa semesta lahir sekitar 14 miliar tahun lalu lewat dentuman besar entitas zat dan energi. Segera setelah ledakan pertama tersebut, semesta meluas dengan cepat, dalam sebuah fenomena yang disebut para astronom sebagai inflasi. Proses perluasan semesta berlanjut dengan periode sangat singkat dan pendinginan sangat cepat, diikuti dengan ekpansi yang lebih tenang. Big Bang menjadi awal pembentukan ruang dan waktu.
Tapi model tersebut, menurut Steinhardt dan Turok, memiliki beberapa kekurangan. Model tersebut tidak dapat menerangkan apa yang terjadi sebelum Big Bang dan menjelaskan hasil akhir dari semesta.
Akhir Teori Big Bang
Steinhardt dan Turok dari Cambridge, dalam laporan di jurnal Science, menguraikan bahwa Big Bang hanyalah salah satu bagian dari pembuatan semesta, tapi bukan pelopor dari kelahiran semesta. Ia hanya bagian kecil dari proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir. Sehingga penentuan umur semesta, yang muncul dari teori Big Bang, merupakan kesimpulan mengada-ada. Penambahan dan penyusutan semesta terjadi secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun. “Waktu tidak mesti memiliki awal,” ujar Steinhardt dalam wawancara telepon dengan Associated Press. Ia mengatakan bahwa teori waktu sebenarnya hanya transisi atau tahap evolusi dari fase sebelum semesta ada ke fase perluasan semesta yang ada saat ini.
Para ilmuwan yang menyokong teori Big Bang melihat ekspansi semesta ditentukan oleh sejumlah energi yang memperlambat dan mempercepat ekspansi. Energi yang memperlambat ekspansi ini kemudian bergerombol dalam galaksi, bintang dan planet. Energi yang mempercepat ekspansi ini diistilahkan sebagai “energi gelap”. Namun Steinhardt dan Turok melihat bahwa materi semesta tidak sekadar terdiri dari energi biasa dan “energi gelap”, tapi juga “spesies ketiga”. “Kami melihat rasio energi yang membentuk semesta adalah 70 persen materi unik dan 30 persen materi biasa,” ujar Steinhardt. Materi biasa yang dimaksud Steinhardt adalah materi yang membuat ekspansi semesta lebih pelan, yang mengijinkan gravitasi menciptakan galaksi, bintang dan planet, termasuk bumi.
Sementara percepatan ekspansi didorong oleh “energi gelap” yang menyatukan sejumlah zat dan energi. “Energi ini, sekali mengambil alih semesta, mendorong segala seuatu pada pusat percepatan. Sehingga semesta akan berukuran dua kali lipat setiap 14 hingga 15 miliar tahun sepanjang ada energi gravitasi yang mendominasi semesta,” ujar Steinhardt. Dentuman besar muncul ketika “energi gelap” mengubah karakter ini. Dengan alasan inilah, kedua ilmuwan fisika tersebut menolak menerima argumen bahwa Big Bang merupakan penyebab kelahiran alam semesta. Karena semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi.
Menurut pendapat saya
Teori Big Bang adalah teori yang kebeneranya sudah hampir mendekati seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran. Namun pembuktian model semesta memang rumit. Sejarah semesta adalah sejarah kesalahan kita sebagai manusia. Karena kita hendak menyelidiki materi yang luar biasa besar, sementara kita hanya bisa duduk di sebuah planet kecil yang menjadi bagian dari materi tersebut.

C. Cara Menghadapi Butterfly Effect
Bagaimana kita menghadapi Butterfly effect ini? Apakah kita berdiam diri atau justeru melakukan kepakan sayap (beraktifitas)? Kenapa harus melakukan kepakan? Toh sesuatu pasti datang menimpa kita karena memang satu kejadian dengan kejadian yang lain berhubungan.
Menurut pendapat saya ada beberapa cara menghadapi butterfly effect, yaitu:
Meningkatkan keimana dan ketaqwaan tehadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena Tuhan yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Tuhan yang maha tau dan mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Supaya kita selalu mendapatkan yang terbaik maka kita harus melakukan yang menurut Sang Maha Pencipta baik. Jangan sekali-kali berani melanggar larangan Tuhan dalam semua aspek kehidupan. Karena bila kita melanggar larangannya berarti kepakan sayap kita akan membuka peluang terjadinya hal-hal yang negatif dalam kehidupan di dunia ini.
Dapat mengambil hikmah dari setiap perisiwa atau kejadian yang mnimpa kita. Sesuatu yang terjadi terhadap diri kita memiliki makna lebih dari sekedar makna yang terlihat oleh mata kita. Seringkali kita mengalami kesulitan karena kita salah memaknai apa yang sedang terjadi. Hal yang kita anggap buruk bisa saja terjadi untuk menghindarkan kita dari bencana yang lebih besar dan hal yang kita anggap baik bisa saja terjadi karena kita sedang menghadapi badai yang lebih dahsyat.
Mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan. Kita diciptakan bukan untuk menunggu kepakan sayap orang lain. Akan tetapi kita diciptakan untuk menciptakan kepakan yang bisa memberi manfaat buat orang lain. Memang boleh jadi, kepakan yang kita lakukan terkadang berdampak negatif dalam hidup kita. Namun orang yang memahami Butterfly Effect ini tidak akan terpatahkan oleh badai yang sepertinya besar karena di balik itu kita melihat ada cuaca yang cerah dan pelangi yang indah. Sebaliknya air yang tenang tidak akan membuat kita terlena karena kita tahu badai yang sesungguhnya akan datang.
Berani menatap masa depan dan bangkit maju untuk sesuatu yang lebih baik. Memang benar bahwa menurut teori efek kupu-kupu, apa yang kita lalui dulu bisa menentukan apa yang akan kita lalui nanti. Tapi hal itu tidak berarti kita berhenti berusaha dan mengeluhkan masa lalu kita yang kelam karena hal itu tidak akan mengubah keadaan. Dan ingat, kita bisa mengubah kesalahan yang kita lakukan di masa lalu agar tidak berdampak di masa depan dengan cara memperbaiki masa kini. Jadi bila suatu ketika Anda telah salah melangkah, berhentilah menatap masa lalu dan palingkanlah mata Anda untuk menatap masa depan.
Berfikir kritis terhadap segala sesuatu yang terjadi atau yang sedang berkembang. Dengan memilih apa saja yang dianggap benar atau sesuai untuk kita tiru dan apa saja yang salah untuk kita hindari.

PENUTUP

Manusia Mempunyai banyak keterbatasan, tapi kalo kita memahami teori butterfly effect ini kita bakal percaya bahwa sekecil apapun keputusan yang kita buat dalam hidup, cepat atau lambat akan memperlihatkan konsekuensinya. Dari teori efek kupu-kupu itu sendiri, sulit rasanya diterima akal secara langsung jika (hanya) karena kepakan kupu-kupu dapat menyebabkan tornado, padahal energi kinetic dari tornado itu sendiri berasal dari matahari dan kupu-kupu hanya dapat mempengaruhi detil tertentu dari peristiwa cuaca dalam bentuk acak.
Sebagai manusia memang tidak banyak yang bisa kita lakukan bila kita hanya seorang diri. Yang bisa dilakukan seorang manusia hanyalah sebuah kepakan sayap kupu-kupu. Namun demikian, sebuah kepakan sayap kupu-kupu tetap memberikan peluang bagi terciptanya peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita. Tentukan kepakan sayap kupu-kupu Anda dan berharaplah tornado keberuntungan akan menghampiri Anda.

DAFTAR PUSTAKA

http://ahmuzaki.multiply.com/journal/item/1
http://jamil.niriah.com/2008/05/09/the-butterfly-effect/
http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1130601964
http://www.harunyahya.com/indo/artikel/022.htm