Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

A.PENDEKATAN

Secara morfologis, kata pendekatan dibentuk dari kata dasar dekat yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 192) bermakna (1) proses, perbuatan, cara mendekati (2) usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang lain yang diteliti, atau metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian (Depdikbus, 1991: 192). Pendekatan merupakan sebuah asumsi yang berkaitan dengan sifat bahasa, pengajaran bahasa, dan belajar bahasa. Pendekatan menguraikan sifat pokok bahasa yang diajarkan (Pateda,1991: 97).

Secara teknis, pendekatan dapat pula diartikan cara pandang persoalan. Hal ini, pendekatan dijadikan sebuah teori landasan untuk menganalisis persoalan (Pateda,1991: 97). Dengan kata lain, pendekatan merupakan langkah awal dalam memulai pelajaran (Asani,1987: 58).

Pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia berarti cara pandang pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan konsep tertentu tentang bahasa Indonesia. Sebelum guru menentukan sebuah pendekatan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, ia perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Menurut Pateda (1991: 124), faktor-faktor tersebut adalah (1) tujuan pembelajaran, (2) subjek belajar atau siswa, (3) bahan ajar, (4) kesediaan alat atau media pemmbelajaran yang tersedia, (5) keterampilan menggunakan pendekatan, dan (6) alokasi waktu yang disediakan.

Sebagai bahan rujukan, berikut dipaparkan bermacam-macam pendekatan dan metode yang dapat dijadikan dasar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar.

1.Pendekatan Behavioristik
Pendekatan behavioristik berpangkal dari pandangan penganut aliran linguistik struktural. Pendekatan ini beranggapan bahwa jiwa seseorang dan hakikat sesuatu hanya bisa dideteksi lewat tingkah laku dan perwujudan lahiriah saja. Sejalan dengan hal itu, pendekatan struktural memandang bahasa sebagaii bentuk ujaran.

2. Pendekatan Mentalistik
Pendekatan mentalistik erat hubungannya dengan psikologi. Pendekatan ini berasumsi bahwa anak lahir sudah mempunyai kemampuan untuk berbahasa. Secara alamiah, walaupun tidak berlatih, anak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa. Menurut Pateda (1991: 101), setiap anak yang lahir telah membawa kelengkapan bahasa yakni struktur dan fungsi bahasa yang akan digunakan. Anak lahir telah memiliki sejumlah pola dasar relasi gramatikal dan kategori, seperti subjek, kata kerja, kata benda, objek, elemen penentu, dan pemandu (Pateda, 1991: 101).

3. Pendekatan Community Langue Learning
Pendekatan community language leraning dapat diartikan suatu pendekatan dengan melibatkan anak didik dalam interaksi sosial yang bertujuan untuk melakukan instropeksi diri mengenal penguasaan bahasa yang dimiliki. Brown (1980) mengatakan bahwa kalau seorang ber­interaksi (apabila masyarakat yang dimasuki baru), maka sela­lu muncul perasaan tidak aman, terancam, keragu-raguan dan konflik yang secara sadar atau tidak menghalangi kita untuk berinteraksi. Berdasarkan konsep itu, Community Language Learning mengisyaratkan agar guru bertindak sebagai konselor, hanya bertugas membimbing, mengarahkan, memberikan motivasi agar perasaan-perasaan tadi dapat dikurangi. Konse­lor tidak boleh menghukum, menyalahkan, apalagi mencaci maki (Pateda, 1991: 104).

4.Pendekatan Total Physical Response
Total Physical Response dipadankan dalam bahasa Indo­nesia menjadi respon fisik total ”tanggapan gerak badaniah atau reaksi psikomotorik total”, yaitu konsep pendekatan yang diciptakan oleh James J. Asher (Pateda, 1991: 109)
Menurut Asher dalam Dardjowidjojo (1987; 194) landasan yang melandasi TPR adalah suatu asumsi bahwa asimilasi informasi dan keterampilan bisa ditingkatkan secara bermakna apa­bila kita memanfaatkan sistem sensori kinestik.
Pateda (1991: 111) memberikan penjelasan bahwa tujuan pendekatan Total Physical Response ini ialah agar si terdidik segera memperoleh kemampuan untuk menggu­nakan bahasa secara lisan, maka hampir semua bahan pelaj’a­ran diberikan dalam bentuk kalimat imperative.

5.Pendekatan The Natural Approach
Pendekatan The Natural Approach, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai pendekatan alamiah. Pendekatan ini pada mulanya memanfaatkan metode langsung (direct method) tetapi lama-kelamaan terpengaruh oleh metode pemerolehan bahasa.
Dardjowidjojo dalam Pateda (1991: 113) menjelaskan bah­wa istilah Natural Approach didasarkan atas pandangan bahwa ketuntasan suatu bahasa lebih banyak bertumpu pada pemero­lehan bahasa itu dalam konteks yang alamiah dan kurang pada pembelajaran aturan-aturan yang secara sadar dipelajari satu persatu.
Pendekatan natural approach muncul dengan maksud untuk mengembang­kan kemampuan dasar berkomunikasi. Sedangkan tekanan penga­jarannya pada bidang kosa kata. Unsur gramatikal dan lafal kurang mendapat perhatian. Dengan kata lain, waktu di kelas dimanfaatkan untuk melatih komprehensi yang mendukung peme­rolehan bahasa.

6.Pendekatan The silent Way
Menurut Dardiowidjojo pendekatan The Silent Way disebut juga pendekatan tutup mulut atau diam. Pendekatan yang pertama kali diperkenalkan oleh Gattegno pada tahun 1954 ini, terilhami oleh sikap dirinya sebagai orang ahli matematika. Dari latar belakang tersebut, barang kali membuatnya konsep seorang guru harus banyak tutup mu­luat atau diam. Siswalah yang, seharusnya banyak bicara dan banyak bekerja (Pateda, 1991: 115).
Djunaidi (1937: 50 ) menyatakan bahwa di dalam pende­katan The Silent Way, guru sebaiknya diam untuk memberikan kesempatan kepada si terdidik untuk mengemukakan pendapat­nya. Proses pembelajaran bahasa sebaiknya dilaksanakan sen­diri oleh si terdidik di kelas. Harried (1987) dalam Pateda (1991: 116), menambahkan bahwa penghargaan terhadap kapasitas si terdidik untuk bergumul dengan masalah bahasa dan mengingat informasi sendiri tanpa verbalisasi dan dengan bantuan minimal dari guru.

7.Pendekatan Komunikatif
Berbahasa adalah menggunakan bahasa untuk berkomunika­si, yaitu menyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain, dari pembicara/penulis kepada pendengar/pembaca. Na­mun dalam praktik pengajaran bahasa, sering kita lupakan fungsi komunikasi bahasa itu, sehingga yang diajarkan ialah pengetahuan tentang bahasa dan bukan keterampilan menggunakan bahasa untuk maksud komunikasi (GBPP 1094, 1989: viii).
Kurikulum. bahasa Indonesia ini bertujuan untuk mengem­balikan pengajaran bahasa kepada fungsi komunikasi tersebut. Ini diupayakan dengan penjabaran kurikulum yang secara jelas dan tegas bertujuan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa dan yang bagian-bagiannya selalu dikaitkan dengan faktor­-faktor penentu dalam berkomunikasi. Faktor-faktor penentu itu ialah siapa yang berbahasa dengan siapa untuk tujuan apa, dalam situasi apa, dalam konteks apa (anak didik lain, kebudayaan dan suasana), dengan jalur mana (lisan atau tulisan), media apa (tatap muka, telepon, surat kawat, buku, koran, gambar dan sebagainya), dalam peristiwa apa (bercakap-cakap, ceramah, upacara, laporan, bercerita, berdiskusi, wawancara atau pernyataan cinta, dan sebagainya) (lihat GBPP 1984, 1989: Viii: Standar Isi 2006). Pengajaran bahasa berdasarkan tugas dan fungsi bahasa seperti itu di­sebut pendekatan komunikatif.